Wednesday, November 18, 2015

#BogorLeisureProject PLACE C: Warung Koblak (GGSP Toko Eman)

Warung Koblakmerupakan warung yang berdiri sejak tahun 2000 dan berlokasi di jalan Kantor Pos, Bogor. Warung ini beroperasi pukul 05:30-21:30 untuk hari Senin sampai Sabtu, sedangkan pada hari Minggu beroperasi pukul 10:00-22:00. Alasan pihak warung Koblak untuk tutup lebih malam pada hari Jumat dan Sabtu karena banyaknya customer yang masih nongkrong disana sampai malam. 

Warung ini dapat menampung orang dengan perkiraan kapasitas sebanyak 4 sampai 6 orang.Harga yang ditawarkan untuk setiap makanan dan minuman yang dijual berada pada kisaran harga Rp 3.000,- sampai Rp 15.000,-. Dan uniknya dari dari warung Koblak ini dimana warung tersebut tidak menggunakan promosi apapun, namun cukup banyak orang yang mengenalnya dari social media karena customernya yang secara sendirinya mempromosikannya lewat akun social media mereka masing – masing.


Warung Koblak ialah warung yang berdiri sejak tahun 2000 dan berlokasi di jalan Kantor Pos, Bogor. Warung ini beroperasi pukul 05:30-21:30 untuk hari Senin sampai Sabtu, sedangkan pada hari Minggu beroperasi pukul 10:00-22:00. Alasan pihak warung Koblak untuk tutup lebih malam pada hari Jumat dan Sabtu karena banyaknya customer yang masih nongkrong disana sampai malam. Warung ini dapat menampung orang dengan perkiraan kapasitas sebanyak 4 sampai 6 orang.
Harga yang ditawarkan untuk setiap makanan dan minuman yang dijual berada pada kisaran harga Rp 3.000,- sampai Rp 15.000,-. Dan uniknya dari dari warung Koblak ini dimana warung tersebut tidak menggunakan promosi apapun, namun cukup banyak orang yang mengenalnya dari social media karena customernya yang secara sendirinya mempromosikannya lewat akun social media mereka masing – masing.

Walaupun ramai, terdapat juga GAP yang nampak cukup jelas dari warung Koblak tersebut. Pertama, minimnya tempat duduk yang tersedia di dalam warung karena pihak warung sendiri hanya dapat memberikan 1 meja panjang dengan 1 kursi panjang yang dapat menampung 5 sampai 6 orang saja. Padahal, warung Koblak ini memiliki rata–rata kunjungan yang cukup tinggi setiap harinya.

Kedua, banyak konsumen yang datang namun tidak mendapatkan tempat. Terlebih lagi warung tersebut juga ramai oleh anak muda yang hobinya bersantai dan “nongkrong” untuk waktu yang tidak sebentar. Jika hal itu sudah terjadi, akan sulit untuk konsumen baru dapat menikmati hidangan warungnya sehingga sebaiknya pengelola memperbaiki fasilitas di Warung Koblak. Misalnya dengan menambah jumlah kursi dan meja, atau membuat suasananya bukan untuk suasana bersantai dalam waktu yang lama.

Kini, permasalahan kapasitas tempat duduk sedikit banyak sudah dapat teratasi dengan adanya lahan kosong sebagai tempat lain untuk anak muda bersantai sambil berlatih ekstrakurikuler. Dengan begitu, penjualan dari Warung Koblak akan tetap terjaga. Anak-anak muda akan membeli makanan dan minuman dari warung namun dibungkus untuk dimakan di lahan tersebut, sementara konsumen lainnya tetap dapat duduk dan menikmati makanan di lahan Warung Koblak.

#BogorLeisureProject PLACE B: Taman Pajaran Satu

Ø   

Taman Padjajaran Satu merupakan salah satu perumahan yang berada di Bogor dan cukup memiliki pamor di mata masyarakat Bogor. Taman Padjajaran Satu juga menyediakan berbagai fasilitas seperti kolam renang dan lapangan futsal yang berada di bagian depan perumahan tersebut. Analisis gap kali ini dibuat berdasarkan hasil observasi terhadap kolam renang Taman Padjajaran Satu dan juga wawancara terhadap pemilik Taman Padjajaran Satu. 


      Dengan melakukan wawancara dengan owner dari Taman Pajajaran 1, Bapak Dwi, dan dengan konsumennya yaitu Mbak Siska, saya menemukan beberapa gap antara ekspektasi konsumen dan produsen.
            Pertama, ditemukan gap terhadap harga tiket masuk kolam renang yang semula harga tiket masuk sebesar Rp 15.000,- menjadi Rp 30.000,-. Hal ini menjadi masalah yang cukup signifikan karena kolam renang dari Taman Padjajaran Satu mengincar target pasar kelas B, sedangkan harga baru yang ditawarkan dirasa cukup membebankan bagi golongan kelas B. Hal ini terbukti dengan banyaknya komplain yang datang dari para pelanggan seperti, “Dulu saya sering kesana, tapi karena harganya naik uk saya,” Kata mbak Siska.
Kedua, kolam renang Taman Padjajaran Satu memiliki kolam Jacuzzi sebagai wahana kolam rileksasi. Namun, saat ini kolam Jacuzzi tersebut masih belum mulai berfungsi. Sehingga cukup banyak konsumen yang kecewa terhadap kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan penambahan fasilitas yang seharusnya diberikan oleh Taman Padjajaran Satu. Padahal, salah satu faktor kenaikan harga tiket masuk adalah fasilitas Jacuzzi tersebut, ditambah dengan adanya pembuatan café baru.

#BogorLeisureProject PLACE A: The Grounds Cafe & Patisserie

The Grounds Cafe & Patisserie merupakan cafe yang berlokasi strategis, yaitu di Jl. Raya Pajajaran no. 59A, Bogor. Tidak heran, cafe ini menjadi salah satu tempat favorit bagi wisatawan Bogor untuk menghabiskan waktu luangnya. Jam operasional dari cafe ini adalah mulai pukul 10.00-23.00 untuk hari Minggu – Kamis, sedangkan pukul 10:00-24:00 untuk hari Jumat & Sabtu. Ambience yang ditawarkan oleh The Grounds adalah homy-vintage dimana mereka ingin konsumen yang datang merasa bahwa The Grounds adalah rumah mereka sendiri. The Grounds juga menyiapkan spot – spot supaya konsumen dapat berfoto dan juga mereka membuat layout restaurant mereka senyaman mungkin untuk konsumen betah berlama-lama didukung dengan tersedianya WiFi.


Harga makanan dan minuman yang ditawarkan The Grounds berkisar antara Rp 20.000,- sampai dengan Rp 50.000,- yang merujuk kepada target pasar mereka yaitu ses A. The Grounds juga mempunyai beberapa channel promosi salah satunya adalah online media dimana mereka tergabung di zomato.com, facebook, twitter dan juga instagram.

Tetapi jika hanya dilihat dari tampilan luarnya, konsumen mengira The Grounds sebagai tempat untuk bersantai sambil meminum alkohol saja, dikarenakan tempatnya yg sedikit tertutup jika dilihat dari luar. Hal ini dapat berdampak pada keseganan orang untuk datang ke cafe tersebut. Karena tidak terlihat bahwa tempat tersebut juga menjual makanan dan minuman yang tersedia di cafe pada umumnya, tidak hanya alkohol.
"Awalnya sempet ngira ini tempat minum-minum doang gitu kan. Soalnya kayak dari luar kayak remang-remang. Terus pas temenku ngasih tau terus ngajak kesini baru deh tau ini cafe biasa aja gitu." -Davita
Konsumen juga merasa rekomendasi dari teman merupakan hal yang penting bagi kosumen The Grounds untuk meyakinkan mereka bahwa kafe tersebut tidak hanya menyajikan minuman, tetapi juga terdapat berbagai macam makanan yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau. Jadi gap pertama adalah persepsi masyarakat Bogor yang kurang tepat mengenai The Grounds itu sendiri.

Gap yang kedua adalah lingkungan dari The Grounds. Berbeda dengan lokasi, lingkungan merupakan hal-hal yang berada di dalam The Grounds. Konsumen merasa bahwa tampilan atau layout kafe tersebut pada saat malam hari kurang bagus karena pencahayaannya yang cenderung redup. Karena pencahayaan kurang, maka konsumen yang mengambil foto disana hasilnya akan kurang bagus pula. Padahal, sebagian anak muda terutama yang perempuan menyukai pergi ke kafe-kafe dengan salah satu tujuan utamanya adalah berfoto yang banyak.

Wednesday, October 7, 2015

#BogorLeisureProject Case No. C2

finally, postingan terakhir mengenai aktivitas masyarakat yang menghabiskan waktu luangnya di Bogor!

Kali ini saya dan teman-teman kelompok ingin melakukan interview di pemancingan. Tetapi ketika saya sedang berjalan ke tempat pemancingan, saya melihat ada 3 orang bapak-bapak sedang berbincang-bincang di kursi bambu yang terletak di pinggir sungai, sambil meminum kopi. Saya pun tertarik untuk mengetahui tentang aktivitas yang mereka lakukan dan meminta izin untuk melakukan wawancara. Dengan senang hati, Pak Alex menerima permintaan saya.


 Nama: Alex

Umur: 42 tahun

Status: Menikah

Pekerjaan: Wirausahawan


Pak Alex dan teman-temannya ini ternyata merupakan masyarakat kampong disini yang ikut di Pos Kepemudaan. Pos Kepemudaan ini adalah Pos yang dibangun oleh Bapak Alex untuk membantu pemuda-pemuda di kampungnya ini.

Saya menanyakan aktivitas yang sedang dilakukan oleh bapak-bapak ini, lalu Pak Alex menjawab
“Saya merencanakan untuk schedule kedepannya.Program apa yang harus dikerjakan untuk lingkungan. Kegiatannya tukar pikiran sharing untuk kepemudaan di kampung. Ya begini sambil ngopi-ngopi.”

Ketika Pak Alex mengatakan ‘sambil ngopi-ngopi’, saya menanyakan lebih lanjut alasan dari meminum kopi saat sharing, bukan minuman lain. Berikut penjelasan Pak Alex
“karena dengan kopi itu bisa kenapa ya…kayak pikiran itu tadinya yang ga ketangkep bisa ketangkep gitu. Daripada kita minum alcohol ya.”

Pak Alex juga mengatakan bahwa kadang-kadang pada hari minggu, ia mengundang dangdutan untk menghibur masyarakat di kampong ini.
“kadang kan kalo minggu ada PKL gitu kita ngundang dangdutan. Yaa.. buat menghibur masyarakat sini aja…”

Saya pun ingin tahu motivasi dari Pak Alex mendirikan Pos Kepemudaan ini, berikut jawabannya
“jaman sekarang ya…dibilang krisis akhlak. Orang kumpul aja orang udah curiga ‘oh mabuk kali apa kali’. Makanya dengan kita begitu, saya buktikan dengan action kerjaan. Biar juga masyarakat biar tau ‘oh iya pemuda kumpul bukan hanya mabuk, tapi ada hasilnya’ gitu.”

Saya juga menanyakan kepada Pak Alex tentang aktivitas di waktu luang yang dilakukan Pak Alex bersama keluarganya, beliau menjawab

“tiap sebulan sekali, ya anak-anak sini mengadakan jalan-jalan yang kayak semacam touring, ke laut, ke telaga, kemana aja.”


Disini saya mendapatkan pelajaran berharga dari Pak Alex. Bahwasanya leisure tidak melulu digunakan untuk mementingkan kepuasan dan kesenangan pribadi. Apa salahnya kita menggunakan leisure kita untuk melakukan hal yang lebih berharga dan dapat membawa dampak positif bagi sekitar.


Sekian interview saya dengan Pak Alex. Semoga postingan terakhir ini menjadi pencerahan bagi kita untuk lebih peduli terhadap sekitar.


#BogorLeisureProject Case No. C2 = DONE!

#BogorLeisureProject Case No. B2

Pada kedatangan saya dan kelompok untuk kedua kalinya ke Bogor, saya dan kelompok memilih untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Pada saat berkeliling-keliling, saya melihat sepasang pria dan wanita sedang berbincang-bincang di padang padang rumput pinggir danau. Tanpa pikir panjang, saya pu langsung mendatangin mereka, meminta izin untuk melakukan interview.



Nama: Orlando

Umur: 19 tahun

Status: Single

Hobby: Mengutak-atik program

Pekerjaan: Mahasiswa


Setelah berkenalan dengan Orlando, saya menanyakan tentang aktivitas yang biasanya ia lakukan di waktu luang.
“ngutak-ngatik program di computer sih. Hmm kalo outdoor paling nongkrong sama temen sih. Di kayak apa taman-taman gitu paling”

Lalu saya menanyakan alasan Orlando mengutak-atik program, berikut jawaban dari Orlando.
“seneng sih. Soalnya kan bisa bikin program sendiri ya. Kalo udah jadi menyenangkan.” 
Lalu saya menanyakan lebih dalam, apa feeling yang ia rasakan saat mengutak-atik programnya
“Pokoknya kalo programnya jadi dan bagus tuh kayak ngikutin lomba terus kita menang gitu.”

Orlando juga mengatakan bahwa hampir tiap minggu ia mengunjungi taman-taman. Alasannya adalah sebagai berikut.
“Gatau sih kalo saya kan sama temen-temen saya emang seneng jalan-jalan ya. Kadang misalnya ke bandung atau jalan kemana dengan uang seadanya, pas-pasan gitu. Jadi emang suka ngeliat pemandangan alam aja. Biar liat pohon liat apa gitu.” 

Lalu saya juga menanyakan alasan Orlando memilih Kebun Raya Bogor untuk aktivitasnya pada saat ini, padahal di daerah asalnya (Bekasi) juga memiliki banyak taman. Kemudian ia menjawab,
“Kalo di bogor itukan kebun raya bogor itu kan lebih banyak pohon-pohonnya dari berbagai daerah di Indonesia kan jadi kita bisa nambah pengetahuan tentang pohon, tau sejarah juga .Sama cari suasana baru juga, abis Bekasi kan udah sering masa kesitu-situ lagi kan.”

Orlando juga memiliki strategi sendiri dalam perencanaannya untuk pergi melakukan aktivitas di waktu luangnya “kalo direncanain mah biasanya sehari sebelum. Abis kalo dari jauh-jauh hari suka batal.”

Saya juga menanyakan hal-hal yang menarik (pull factor) dari Kebun Raya Bogor kepada Orlando, berikut jawabannya
“liat tanaman-tanaman yang gak diliat orang gitu. Pengen liat tanaman yang belum orang liat gitu ibaratnya. Jadi yang pohon-pohon biasa malah kurang tau biasanya.” terlihat disini bahwa Orlando dapat dikategorikan sebagai orang yang anti-mainstream.

Terakhir, saya menanyakan kesan-kesan yang ia dapatkan saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor, berikut jawaban Orlando

“apa ya kesannya susah diungkapin sih ya… tapi kalo dari saya sih karena ngeliat pemandangan gini (tanaman) kesannya jadi nyaman gitu enak, bisa jadi tenang, jadi pikiran tuh fresh.”



Sekian interview saya dengan Orlando. Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan selanjutnya.




#BogorLeisureProject Case No. B2 = DONE!

#BogorLeisureProject Case No. A2

Ketika saya dan teman kelompok sedang melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya, Botani Square, saya tidak sengaja melihat orang sedang bermain loncat-loncat tali (slack line) di taman kecil yang berlokasi tepat disamping lampu merah. Tanpa pikir panjang, saya dan teman saya Alvin, langsung turun untuk mewawancarai orang-orang  yang sedang bermain olahraga ekstrim tersebut.




Nama: Hadid Muharram (tengah)

Umur: 22 tahun

Status: Single

Pekerjaan: Mahasiswa

Ketika ditanya mengenai hobby nya, Hadid mengatakan sebagai berikut.
“Paling kayak slack line, olahraga ekstrim kayak gini. Biasanya kalo ada waktu luang gambar-gambar dikit bikin sketsa.”

Alasan dari Hadid memilih untuk bermain slack line daripada olahraga lainnya dinyatakan sebagai berikut 
“soalnya saya ngerasa disitu aja tempatnya. Karena ngerasa disitu ya… jalanin aja. Bisa dapet kepuasan batin tersendiri juga sih.” disini terlihat bahwa Hadid merasa bahwa bermain Slack line dapat memenuhi self-esteem needs nya (hedonis)

Kriteria taman yang dipilih untuk bermain slack line adalah harus memiliki jarak antar pohon yang sudah ditetapkan, akhirnya mereka memilih untuk bermain di taman ini.

Hadid menyatakan bahwa bermain slack line memiliki resiko yang tinggi. 
“kekurangannya sih paling risiko cedera. Kejepret gitu. Kan kadang kayak bersisik gitu kalo talinya kena tangan.”

Experience unik yang didapatkan selama main slack line adalah sebagai berikut.
“Jadi saya pernah loncat, eh pas landing, salah posisi kena tangan, jadinya memar terus ngebentuk luka.”


Tetapi biarpun sudah luka-luka, Hadid tidak kapok karena ia merasa bahwa slack line merupakan ‘separuh hidupnya’ (pleasure is pain)


Sekian interview saya dengan Hadid Muharram, Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan berikutnya.



#BogorLeisureProject Case No. A2 = DONE!

#BogorLeisureProject Case No. C1

Tempat selanjutnya yang saya kunjungi adalah Bogor Trade Mall. Ketika saya dan teman-teman kelompok sedang makan di foodcourt, kami melihat ada tiga sekawan sedang tertawa terbahak-bahak sambil mengemil tempe mendoan. Setelah kami selesai makan, saya pun meminta izin untuk melakukan interview dengan salah satu dari mereka.




Nama: Elma Amelia

Umur: 16 tahun

Status: Single

Hobby: Menyanyi

Pekerjaan: Pelajar SMA


Ketika saya menanyakan kegiatan yang sedang mereka lakukan pada saat itu, Elma mengatakan
“lagi nyantai… refreshing abis UTS… soalnya sama mereka jarang ketemu kan. Sama nemenin dia juga nih… nyari baju.”

Saya pun menanyakan Elma tentang kegiatan yang ia lakukan di waktu luang, Elma menjawab “makan, nongkrong, ngobrol, cerita…ya curhat-curhatan aja gitu.”
Saya juga menanyakan dimana ia dan teman-temannya biasa nongkrong, lalu Amel menjawab di Circle K. Ketika saya menanyakan lebih lanjut alasan ia nongkrong di tempat tersebut, Amel menyatakan
“soalnya tempat nongkrongnya asik sih kak, bebas, free time. Minumannya enak…”

Selain melakukan aktivitas ditempat-tempat indoor, Elma juga suka berkunjung ke Kebun Raya hunting foto. Tetapi fasilitas angkutan umum yang kurang nyaman membuat Elma malas untuk berkunjung ke tempat tersebut.
“Soalnya ribet kak kalo harus naik turun naik turun angkot gitu… kalo naik motor mah kan enak.”

Menurut Elma, tiap nongkrong di Circle K, Foster adalah minuman wajib yang ia selalu beli dengan teman-temannya.
“Ada sih kak, Foster. Soalnya seru aja, campur-campur gitu.” –disini terlihat bahwa Elma senang untuk nongkrong di CK karena ia bisa mendapatkan experience yang tidak bisa ia dapatkan dari tempat nongkrong lainnya; mencampur jenis rasa minuman sesuai dengan kesukaannya.

Terakhir, ketika ditanya mengenai tempat nongkrong ‘impian’ Elma, berikut jawabannya.

“bikin foodcourt luas jadi tongkrongan biar asik kayak BNR, Bogor Nirwana Residence. Soalnya Cuma satu tempat jauh…pengennya tuh lebih banyak biar lebih asik. Sama yang buat hunting (foto) bagus.” 


Sekian interview saya dengan Elma Amelia. Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan selanjutnya.




#BogorLeisureProject Case No.C1 = DONE

Tuesday, October 6, 2015

#BogorLeisureProject Case No. B1

Pada saat saya berkunjung ke Warung Nagih, saya melihat dua orang sedang berbincang sambil menonton di TV LCD yang disediakan oleh tempat tersebut. Lalu saya tertarik untuk mewawancarai mereka lebih dalam.



Nama: Hilda 

Umur: 24 tahun

Status: Single

Pekerjaan: Karyawan Swasta

Kegiatan yang dilakukan oleh Mbak Hilda di waktu luangnya adalah mongkrong sambil makan dengan teman atau pasangan, dengan intensitas empat kali per bulan.

Feeling yang dirasakan Mbak Hilda pada saat nongkrong sambil makan dinyatakan Mbak Hilda sebagai berikut
“happy yang jelas,intinya kalo kita nongkrong yaudalah…kerjaan tinggalin aja dulu. Yaudah kita nongkrong intinya nyari suasana gitu.”

Alasan Mbak Hilda memilih untuk nongkrong di Warung Nagih adalah karena tempat tersebut cocok untuk bersantai sepulang kerja (karena jam bukanya yang hingga larut malam), tempatnya nyaman (tidak terlalu ramai), dan pasangannya bisa merokok dengan bebas.

Mbak Hilda memilih nongkrong untuk mengisi waku luangnya karena ia bosan dengan rutinitas yang sama, dan setelah nongkrong otaknya menjadi lebih fresh, karena ia terlepas dari pekerjaannya.
 ”cewek kan senengnya kayak jalan, shopping, gitu kan lebih senengnya. Terus juga kalo untuk kerja kan penat gitu ya jenuh. Apalagi kalo kita udah batas kerja satu tahun gitu ya… aduh ini kerja gini-gini mulu. Jadinya dengan nongkrong itulah jadinya kembali fresh lagi untuk besoknya.”

Hal yang Mbak Hilda sukai dari Warung Nagih adalah karena tempatnya asik untuk bersantai – karena tempatnya outdoor, tidak ada rules (untuk merokok), ada proyektor, dan juga jarak antar meja yang tidak sempit. Sehingga ia merasa memiliki privasi walaupun di tempat terbuka. Sehingga, ia merasa enjoy untuk menikmati waktu luangnya. 

Leisure bagi Mbak Hilda adalah nongkrong sambil makan ditempat yang mudah dijangkau dan tidak membuang tenaga.  Mbak Hilda kurang suka pergi ke tempat-tempat wisata karena alasan berikut
“Waktunya soalnya mbak mepet. Kadang-kadang kan kalo hari minggu kan yaudalah nyari tempat rekreasi  yang sekiranya cepet ketemu ya enjoy gitu. Kadang-kadang kan kalo ke pantai macet, jadi besoknya kerja capek lagi. Bukannya kita fresh, eh malah loyo.”


Rekomendasi untuk Warung Nagih dari Mbak Hilda adalah seharusnya menambah live music dan mengundur jam tutupnya pada weekdays, karena menurutnya, tidak semua orang mendapatkan libur di hari sabtu atau minggu.


Sekian interview saya dengan Mbak Hilda. Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan selanjutnya.


#BogorLeisureProject Case No. B1 = DONE!

#BogorLeisureProject Case No. A1

Tempat pertama yang saya tuju adalah Café Two Stories. Saat pertama kali masuk ke café ini, saya melihat sebuah keluarga kecil sedang berbincang-bincang sambil menikmati minumannya. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung meminta izin untuk mewawancarai sang kepala keluarga untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Bogor di waktu luangnya.




Nama: Herry Panca

Umur: 50 tahun

Status: Menikah

Pekerjaan: Karyawan Swasta

Pak Herry menyatakan bahwa kegiatan yang ia lakukan pada waktu luang adalah sebagai berikut,
“ya biasanya sama anak-anak, istri. Paling ke mall, café, renang, atau ya outbound. Tapi kalo bapaknya sih senengnya ke café yang ada live musicnya.”

Ketika saya menanyakan alasan kenapa ia memilih untuk melakukan aktivitas tersebut, berikut jawaban dari Pak Herry, 
“kalo outbound renang itu kan anak saya yang seneng… kalo ke café saya seneng yang ada live musicnya… soalnya saya emang seneng music.”

Saya pun menanyakan alasan Pak Herry memilih untuk menghabiskan waktu luangnya di Two Stories Café, beripun tanggapan beliau  
“Ini pertama kali karena saya… Lemongrass udah. Umumnya kalo ada yang baru itu kita coba-cobain.” disini terlihat bahwa Pak Herry senang untuk berkunjung ke tempat-tempat yang baru (dalam hal ini café atau restoran).

Hal yang membuat Pak Herry tertarik (pull factors) untuk mencoba Two Stories Café adalah karena tempatnya yang ‘oke’ ketika terlihat dari luar. Ketika saya tanya lebih lanjut mengenai ‘oke’ yang dimaksud dari Pak Herry adalah design eksterior dan interiornya yang nampak bagus dari luar.

Tetapi setelah berkunjung ke Two Stories Café, ia mulai membandingkan dengan café ini dengan Lemongrass Resto. 
“Suasananya (Lemongrass) lebih bagus dari ini. Suasananya natural, saya suka hal yang sifatnya natural.”


Sekian interview saya dengan Bapak Herry Panca. Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di post selanjutnya.



#BogorLeisureProject Case No. A1 = DONE!

#BOGORLEISUREPROJECT


Bogor Leisure Project merupakan projek yang dilaksanakan oleh Mahasiswa/i S1 Marketing Prasetiya Mulya dan bekerja sama dengan kepariwisataan Indonesia. Disini, kami mahasiswa semester 5 ditugaskan untuk mencari tau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat yang menghabiskan waktu luangnya di Bogor. Selain itu, kami juga mencari insight dari aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan. Harapannya, kota Bogor dapat menjadi kota yang lebih baik dan dapat menjadi destinasi pariwisata bagi turis-turis lokal.

Our journey starts here!