Wednesday, October 7, 2015

#BogorLeisureProject Case No. A2

Ketika saya dan teman kelompok sedang melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya, Botani Square, saya tidak sengaja melihat orang sedang bermain loncat-loncat tali (slack line) di taman kecil yang berlokasi tepat disamping lampu merah. Tanpa pikir panjang, saya dan teman saya Alvin, langsung turun untuk mewawancarai orang-orang  yang sedang bermain olahraga ekstrim tersebut.




Nama: Hadid Muharram (tengah)

Umur: 22 tahun

Status: Single

Pekerjaan: Mahasiswa

Ketika ditanya mengenai hobby nya, Hadid mengatakan sebagai berikut.
“Paling kayak slack line, olahraga ekstrim kayak gini. Biasanya kalo ada waktu luang gambar-gambar dikit bikin sketsa.”

Alasan dari Hadid memilih untuk bermain slack line daripada olahraga lainnya dinyatakan sebagai berikut 
“soalnya saya ngerasa disitu aja tempatnya. Karena ngerasa disitu ya… jalanin aja. Bisa dapet kepuasan batin tersendiri juga sih.” disini terlihat bahwa Hadid merasa bahwa bermain Slack line dapat memenuhi self-esteem needs nya (hedonis)

Kriteria taman yang dipilih untuk bermain slack line adalah harus memiliki jarak antar pohon yang sudah ditetapkan, akhirnya mereka memilih untuk bermain di taman ini.

Hadid menyatakan bahwa bermain slack line memiliki resiko yang tinggi. 
“kekurangannya sih paling risiko cedera. Kejepret gitu. Kan kadang kayak bersisik gitu kalo talinya kena tangan.”

Experience unik yang didapatkan selama main slack line adalah sebagai berikut.
“Jadi saya pernah loncat, eh pas landing, salah posisi kena tangan, jadinya memar terus ngebentuk luka.”


Tetapi biarpun sudah luka-luka, Hadid tidak kapok karena ia merasa bahwa slack line merupakan ‘separuh hidupnya’ (pleasure is pain)


Sekian interview saya dengan Hadid Muharram, Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan berikutnya.



#BogorLeisureProject Case No. A2 = DONE!

No comments:

Post a Comment