Ketika saya dan teman kelompok sedang melanjutkan perjalanan
ke tempat selanjutnya, Botani Square, saya tidak sengaja melihat orang sedang
bermain loncat-loncat tali (slack line)
di taman kecil yang berlokasi tepat disamping lampu merah. Tanpa pikir panjang, saya
dan teman saya Alvin, langsung turun untuk mewawancarai orang-orang yang sedang bermain olahraga ekstrim
tersebut.
Nama: Hadid Muharram (tengah)
Umur: 22 tahun
Status: Single
Pekerjaan: Mahasiswa
Ketika ditanya mengenai hobby nya, Hadid mengatakan sebagai
berikut.
“Paling kayak slack line,
olahraga ekstrim kayak gini. Biasanya kalo ada waktu luang gambar-gambar dikit
bikin sketsa.”
Alasan dari Hadid memilih untuk bermain slack line daripada olahraga lainnya dinyatakan sebagai berikut
“soalnya
saya ngerasa disitu aja tempatnya. Karena ngerasa disitu ya… jalanin aja. Bisa
dapet kepuasan batin tersendiri juga sih.” disini terlihat bahwa Hadid merasa
bahwa bermain Slack line dapat
memenuhi self-esteem needs nya (hedonis)
Kriteria taman yang dipilih untuk bermain slack line adalah
harus memiliki jarak antar pohon yang sudah ditetapkan, akhirnya mereka memilih
untuk bermain di taman ini.
Hadid menyatakan bahwa bermain slack line memiliki resiko
yang tinggi.
“kekurangannya sih paling risiko cedera. Kejepret gitu. Kan kadang
kayak bersisik gitu kalo talinya kena tangan.”
Experience unik yang didapatkan selama main slack line
adalah sebagai berikut.
“Jadi saya pernah loncat, eh pas landing, salah posisi kena
tangan, jadinya memar terus ngebentuk luka.”
Tetapi biarpun sudah luka-luka, Hadid tidak kapok karena ia
merasa bahwa slack line merupakan ‘separuh hidupnya’ (pleasure is pain)
Sekian interview saya dengan Hadid Muharram, Masih banyak insights menarik yang akan saya paparkan di postingan berikutnya.
#BogorLeisureProject Case No. A2 = DONE!
No comments:
Post a Comment